PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Era globalisasi dan informasi sekarang ini banyak menimbulkan
perubahan-perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, pemerintah, pola pikir manusia
maupun dalam bidang pendidikan. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai macam
tantangan dan kesukaran, baik yang bersifat ringan, agak berat maupun sangat
berat, sesuai dengan penilaian seseorang terhadap masalah yang dihadapinya.
Sekolah yang didalam fungsinya tidak dapat
melepaskan diri dari situasi kehidupan masyarakat tertentu saja harus membantu
agar siswa mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya sebagai akibat
dari kemajuan-kemajuan sebagaimana yang dijelaskan diatas. Dalam situasi inilah
bimbingan dan konseling akan terasa diperlukan sebagai suatu bentuk bantuan dan
pelayanan sekolah (guru) kepada siswanya.[1]
Anak – anak pada tingkat usia SMP
telah memasuki pubertas yang oleh para ahli psikologi seperti Rumke, R.
Cassimir dan sebagainya dianggap masa usia di mana perasaan keagamaan mulai
terbentuk dalam pribadinya. Masa pubertas tersebut dialami oleh mereka sebagai
permulaan timbulnya sturn und drang (kegoncangan batin) yang sangat
memerlukan tempat perlindungan jiwa yang mampu memberikan pengarahan positif
dalam perkembangan hidup selanjutnya.
Bimbingan dan konseling sangat
berperan aktif serta bertanggung jawab dalam pembinaan anak didik atau siswa di
sekolah. Interaksi dalam proses belajar mengajar ini bukan semata-mata
menghasilkan yang positif, akan tetapi ada dampak negatif yang tidak dapat
dihindari. Sikap negatif pendidik yang terjadi selama dalam proses belajar mengajar
akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental anak. Demikian pula
interaksi sesama anak didik di sekolah tidak selalu menguntungkan bagi mereka, karena
sering terjadi kebiasaan negatif seorang anak didik berpengaruh negatif pula bagi
anak didik lain.
Kebiasaan-kebiasaan negatif yang sering dilakukan
seorang anak didik antara lain seperti memukul teman, menendang teman,
membentak sesama teman, mengucilkan teman dan sebagainya, itu adalah bagian
dari salah satu contoh dari sekian banyaknya kebiasaan-kebiasaan negatif yang
dilakukan seorang anak didik.
Karena
anak belajar dari apa yang mereka alami. Kondisi negatif yang komplek ini
merupakan wujud (entitas) yang realistik di lingkungan sekolah. Karena
itu perlu adanya tindakan-tindakan dan perilaku khusus dari para pendidik agar
kondisi lingkungan sekolah dapat menjamin tersedianya lingkungan yang sehat,
baik secara fisik maupun psikis sesuai dengan tujuan pendidikan.[2]
Masa remaja merupakan salah satu
periode dalam rentangan kehidupan manusia, dimana individu meninggalkan masa
anak-anaknya dan mulai memasuki masa dewasa. Oleh karena itu, periode remaja
dapat dikatakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Dalam masa
ini individu mengalami banyak tantangan dalam perkembangannya, baik dari dalam
diri maupun dari luar diri terutama lingkungan sosial. Menurut Elida dan
Prayitno tingkah laku negatif bukan merupakan ciri perkembangan remaja yang
normal, remaja yang berkembang akan memperlihatkan perilaku yang positif. Sekarang
ini sebagian remaja menunjukkan perilaku negatif, salah satunya adalah perilaku
agresif yaitu suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja pada individu lain
sehingga menyebabkan sakit fisik dan psikis pada individu lain.[3]
Menurut Masdudi mengutif pendapat
Muro and Kottman mengatakan bahwa, bimbingan adalah pemberi bantuan kepada
seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat
memahami dirinya, lingkungan dan tugas-tugasnya sehingga mereka sanggup
mengarahkan diri, menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan
keadaan dan tuntutan lembaga pendidilkan, keluarga, masyarakat lingkungan kerja
yang akan dimasuki kelak. Sedangkan konseling menurut Masdudi mengutif pendapat
Shertzer & Stone mengatakan bahwa konseling adalah upaya membantu individu
melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien, agar
klien mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan
menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga klien merasa
bahagia dan efektif perilakunya.[4]
Bimbingan dan konseling agama
menurut HM.Arifin adalah usaha pemberian bantuan kepada seseorang yang
mengalami kesulitan baik lahiriah maupun bathiniah yang menyangkut kehidupannya
dimasa kini dan dimasa yang mendatang. Bantuan tersebut berupa pertolongan
dibidang mental spiritual, agar orang yang bersangkutan mampu mengatasinya
dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri maupun dorongan dari kekuatan
iman dan takwanya kepada Tuhan.[5]
Berbicara dalam agama tentang kehidupan manusia, hal
ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia
ke arah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figur konselor yang
sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang
berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaitan.
Seperti tertuang dalam Al-Qur’an surat
Al-Ashr
ayat 1-3 :
وَالْعَصْرِ) ١ (اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ) ٢(
اِلاَّ الَّذِیْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْ ابِالصَّبْرِ) ٣(
Artinya
:
“Demi masa. Sungguh
manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal
kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran dan saling menasehati
supaya mengamalkan kesabaran”.[6]
Bimbingan dan konseling dijalankan di sekolah dalam
rangka menunjang keberhasilan program pendidikan. Artinya apapun yang dilakukan
dalam bimbingan merupakan usaha pelaksanaan program pendidikan. Terlebih dalam
setiap adanya perubahan kurikulum yang selalu mencantumkan wajibnya pelaksanaan
bimbingan dan konseling. Bimbingan konseling untuk membantu individu mewujudkan
dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
di akhirat, dan mampu mengatasi masalah yang sedang di hadapinya.
Fungsi bimbingan dan konseling sudah berjalan dengan
baik, dilihat dari segi minimnya kenakalan siswa. Selain itu, setiap ada
permasalahan, siswa langsung datang ke BK tanpa merasa takut karena adanya
kedekatan antara BK dan siswa. Peranan petugas-petugas bimbingan sebaiknya
tidak pada kegiatan menghukum peserta didik, sebab petugas-petugas bimbingan
yang menghukum peserta didik menggangu hubungan kepercayaan (raport) dan
berbagai informasi yang diperlukan dari peserta didik dapat diterima oleh
petugas bimbingan, hal semacam ini secara langsung akan merusak profesi
bimbingan itu sendiri dan akan menggangu proses bimbingan disekolah.[7]
Berdasarkan uraian di
atas, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul: “PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING (BK)
DALAM UPAYA MENANAMKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM PADA SISWA SMPN 35 PALEMBANG”.
A.
Batasan
Masalah
Penulis mengambil
sampel penelitian ini kepada siswa SMPN 35 Palembang yang memiliki permasalahan.
Alasan memilih kota Palembang karena peneliti bertempat tinggal di Palembang
agar dapat melakukan penelitian dengan lebih strategis dan mudah.
B.
Rumusan
Masalah
Dalam penelitian ini peneliti
mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (Bk)
dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35
Palembang ?
2. Apa peran guru Bimbingan Konseling (Bk)
dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35
Palembang?
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah
dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin di capai adalah:
1. Untuk
mengetahui bagaimana peran
guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan
islam pada siswa SMPN 35 Palembang
3. Untuk
mengetahui bagaimana peran
guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan
islam pada siswa SMPN 35 Palembang.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat Teoritik
a. Bagi
peneliti sebagai informasi dan pengetahuan mengenai peran guru Bimbingan
Konseling (BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa
SMPN 35 Palembang.
b. Bagi
pembaca sebagai wawasan keilmuan dan pengetahuan dan dapat digunakan sebagai
bahan bacaan untuk mengetahui bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (BK)
dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa SMPN 35 Palembang.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi penulis
dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam menerapkan ilmu yang telah
diperoleh selama di bangku kuliah dalam dunia kerja yang sebenarnya.
b.
Bagi masyarakat
dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran guru Bimbingan Konseling
(BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa SMPN 35 Palembang.
c.
Bagi pembaca
hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, informasi dan
referensi bacaan bagi semua pihak yang membutuhkannya.
d. Bagi guru Bimbingan Konseling (BK) hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan wawasan, informasi
dan referensi bacaan bagi semua anggotanya.
E.
Kajian Pustaka
1.
Penelitian
yang dilakukan oleh Ahin dalam skripsinya tentang “ pendidikan spiritual
hypnoparenting menurut Muhammad Noer dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan
islam” terdapat kata nilai pendidikan islam
merupakan bagian yang sudut pandangnya berbeda-beda karena didasarkan atas
sumber-sumber nilai dalam pendidikan islam.
2.
Penelitian
yang dilakukan oleh sholha afriyanti dalam skripsinya tentang “internalisasi
nilai-nilai pendidikan islam melalui learning community di yayasan
bening nurani (YABNI) Palembang” terdapat kata nilai-nilai pendidikan islam
adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan islam yang
digunakan sebagai dasar menusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu
mengabdi pada Allah SWT.
3.
Penelitian
yang dilakukan oleh siti maemanah dalam skripsinya tentang “bimbingan konseling
islami dalam menanggulangi kekerasan siswa di sekolah menengah kejuruan (smk)
nusantara weru kabupaten cirebon” terdapat kata bimbingan dan konseling adalah
proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to
face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang
mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah
yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki
dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami
dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat
merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
4.
Penelitian
yang dilakukan oleh Iqbal Nazilidalam
skripsinya tentang “Bimbingan konseling islami terhadap perilaku penyimpangan
seksual anak cacat mental di SLBN Pembina Yogyakarta” terdapat kata bimbingan
dan konseling islami adalah suatu usaha
yang dapat dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi dan memecahkan masalah
yang dialami klien agar dapat mencapai kebahagiaan hidup didunia maupun
diakhirat berdasarkan ajaran islam.
F.
Kerangka Teori
1. Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan
pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal
maupun secara informal. Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku
yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta
berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku. Peranan adalah suatu pola
tindakan yang dilakukan oleh aparat desa baik secara individual maupun secara
bersama-sama yang dapat menimbulkan suatu peristiwa. Analisis terhadap perilaku
peranan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu ketentuan peranan,
gambaran peranan, dan harapan peranan. Ketentuan peranan adalah pernyataan
formal dan terbuka tentang perilaku yang harus ditampilkan oleh seseorang dalam
membawa perannya.[8]
2. Guru Bimbingan Konseling (BK)
Guru
dalam arti luas berarti orang yang mata pencahariannya adalah mengajar, bisa di
sekolah atau di madrasah. Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
tahun 2003, membahas tentang pendidik dan tenaga kependidikan pada BAB XI Pasal
39 ayat 1 daaan 2 “Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi,
pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang
proses pendidikan pada satuan pendidikan.”
Pendidik
merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik di perguruan tinggi.[9] Pada
bidang profesi, guru bertugas mendidik, mengajar, dan melatih; mendidik berarti
meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup; mengajar berarti meneruskan dan
mengembangkan iptek; melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan
siswa dalam bidang kemanusiaan, di sekolah, guru berperan sebagai orang tua
kedua, yang memberi dan membangun motivasi murid-muridnya untuk belajar
serta menambah wawasan dalam berbagai hal dalam bidang kemasyarakatan, guru
bertugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik
serta bertanggung jawab.
Definisi
bimbingan sendiri di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat berarti; petunjuk
(penjelasan) cara mengerjakan sesuatu, tuntunan atau bisa juga berarti
pimpinan. Di Indonesia istilah bimbingan merupakan serapan dari bahasa Inggris
yaitu dari kara guidance yang diambil dari kata kerja guide yang berarti
memimpin, menunjukkan atau membimbing ke jalan yang baik. Sehingga kata gudance
dapat berarti pemberian pengarahan atau pemberian petunjuk kepada seseorang.
Beberapa
definisi lain yang dipaparkan para ahli di Indonesia tentang istilah bimbingan,
di antaranya; Ahmad Badawi mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses bantuan
yang diberikan oleh pembimbing (guru) terhadap individu (siswa) yang mengalami
problem, agar siswa tersebut mempunyai kemampuan untuk memecahkan problem yang
dihadapi sendiri dan akhirnya dapat mencapai kebahagiaan hidup, baik
kebahagiaan dalam kehidupan individu maupun sosial.[10]
Istilah
konseling di dalam Kamus Besar bahasa Indonesia memiliki arti pemberian bimbingan
oleh yang ahli (guru BK) kepada seseorang (siswa) dengan menggunakan metode
psikologis dan sebagainya. Arti lain dari konseling adalah pemberian bantuan
oleh guru BK kepada siswa sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan
diri sendiri siswa meningkat dalam memecahkan berbagai masalah.[11]
Bimo
Walgito mendidefinisikan istilah konseling sebagai bantuan yang diberikan
kepada individu (siswa) untuk memecahkan masalah kehidupan dengan cara
wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi oleh siswa
untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.[12]
Sedangkan menurut Glenn E. Smit mengungkapkan bahwa konseling adalah suatu
proses dimana konselor (guru) membantu konseli (siswa) dalam membuat
interpretasi mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana atau
penyesuaaian yang siswa tersebut butuhkan.[13]
Jadi
kesimpulannya Bimbingan dan konseling dapat diartikan pelayanan bantuan untuk
peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan
berkembang secara optimal dalm bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan
belajar dan bimbingan karir melalui berbagai layanan dan kegiatan pendukung
berdasarkan norma-norma yang berlaku.
3. Nilai-nilai Keagamaan
Nilai-nilai
pendidikan islam atau keagamaan terdiri dari dua kata yaitu kata nilai dan
keagamaan. Nilai itu sendiri adalah hakikat suatu hal yang menyebabkan hal itu
dikejar oleh manusia. Nilai juga berarti keyakinan yang membuat seseorang
bertindak atas dasar pilihannya.[14] Sedangkan pendidikan islam menurut
Chabib Thoha adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta teori-teori
yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan berdasarkan nilai-nilai
dasar islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.[15] Tujuan pendidikan islam
adalah sejalan dengan pendidikan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk
Allah SWT yaitu semata-mata hanya beribadah kepada-Nya. Ahmad D. Marimba
berpendapat bahwa yang menjadi landasan atau dasar pendidikan diibaratkan
sebagai sebuah bengunan sehingga isi Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi pondamen,
karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya pendidikan.[16]
G.
Hipotesis
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap
permasalahan yang diajukan dalam penelitian kuantitatif. Sebelum peneliti
mengadakan proses pengumpulan data dilapangan an menganalisisnya untuk
mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan, peneliti terlebih dahulu
memberikan jawaban sementara.[17]
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, landasan teori, dan
penelitian terdahulu serta kerangka pemikiran teoritis di atas, maka hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan:
1. Hipotesis
1 : Guru Bimbingan Konseling (BK) berpengaruh positif terhadap nilai-nilai
pendidikan islam pada siswa SMPN
35 Palembang
2. Hipotesis
2 : Guru Bimbingan Konseling (BK) berpengaruh negatif terhadap nilai-nilai
pendidikan islam pada siswa SMPN
35 Palembang
H.
Variabel
Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel
Penelitian
Variabel penelitian terdiri atas dua macam, yaitu : variabel
terikat (dependent variable) atau variabel yang tergantung pada variabel
lainnya, dan variabel bebas (independent variable) atau variabel yang
tidak bergantung padavariabel lainnya.
a. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel dependen merupakan variabel yang menjadi pusat
perhatian peneliti. Hakekat sebuah masalah, mudah terlihat dengan mengenali
berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model. Dalam penelitian
ini yang menjadi variabel terikat adalah sikap kepemimpinan mahasiswa Palembang
(Y).
b. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi
variabel dependen, baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya
negatif. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah Guru Bimbingan
Konseling (BK) (X).
2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah sesuatu yang melekat arti pada
suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk
mengukur variabel itu. Pengertian operasional variabel diuraikan menjadi
indikator empiris meliputi:
a.
Guru Bimbingan Konseling (BK) (X)
b.
Nilai-nilai pendidikan
islam pada siswa SMPN
35 Palembang (Y)
I.
Jenis Penelitian
Metode penelitian ini
dilakukan menggunakan metode desktiptif kualitatif. metode desktiptif
kualitatif merupakan suatu penelitian ekplorasi dan memainkan peranan yang
sangat penting dalam menciptakan hipotesis atau pemahaman tentang berbagai
variabel sosial. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggambarkan,
meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena relitas
sosial yang ada dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya
menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model,
tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu.[18]
Pengolahan dan analisis data penelitian ini tunduk pada cara analisis data
ilmu-ilmu sosial. Untuk menganalisis data, tergantung pada sifat data yang
dikumpulkan oleh peneliti.
J.
Jenis Dan Sumber Data
a. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah:
1)
Data
Kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar, seperti
literatur-literatur serta teori-teori yang berkaitan dengan penelitian penulis.
Jadi data kualitatif itu bisa dalam berbagai macam bentuk seperti gambar,
kalimat dan lain-lain.
2)
Data
Kuantitatif, ialah data yang dinyatakan di dalam bentuk skala numerik atau
angka, seperti contoh data kualitatif yang diangkakan (scoring).[19]
Jadi data kuantitatif itu adalah data yang berbentuk angka.
b.
Sumber
Data
1) Data Primer
Data primer adalah data yang diambil langsung tanpa perantara
dari sumbernya.[20]
Data responden sangat diperlukan untuk mengetahui tanggapan responden mengenai
pengaruh organisasi terhadap pembentukkan sikap kepemimpinan mahasiswa uin
raden fatah Palembang dalam perspektif agama islam. Sumber data pertama ini
merupakan catatan tertulis yang dilakukan melalui wawancara yang diperoleh
peneliti dari responden (anggota organisasi) dan informan (ketua organisasi).
2) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang
diambil secara tidak langsung dari sumbernya. Data sekunder biasanya diambil
dari dokumen-dokumen (laporan, karya tulis orang lain, koran dan majalah).[21]
Sumber data sekunder yang digunakan adalah dokumen dan sumber-sumber pustaka
yang ada kaitannya dengan pengaruh organisasi KAMMI terhadap pembentukkan sikap
kepemimpinan mahasiswa Uin Raden Fatah Palembang dalam perspektif agama islam.
K.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi (population)
merupakan keseluruhan (jumlah) subyek atau sumber data penelitian. Populasi adakalanya terhingga (terbatas) dan
tidak terhingga (tidak terbatas). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
anggota Guru Bimbingan Konseling (BK) di .
Sampel merupakan
populasi atau subyek yang dipilih dan ditetapkan sebagai sumber data atau
sumber informasi penelitian. Penarikan sampel ditentukan oleh banyaknya
populasi atau tingkat heterogenitas populasi.[22]
Sehingga sampel dari penelitian ini adalah seluruh anggota organisasi KAMMI di
UIN Raden Fatah Palembang disetiap staf baik itu ketua, wakil, sekretaris atau
anggotan dalam organisasi, mencakup seluruh orang yang ada dalam organisasi
tersebut.
L.
Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara:
1)
Observasi
ialah melakukan pengamatan terhadap sumber data. Observasi bisa dilakukan
secara terlibat (partisipasi) dan tidak terlibat (non- partisipasi). Jadi
observasi adalah tehnik pengumpulan data melalui pengamatan.
2)
Wawancara,
cara ini dilakukan dengan melakukan dialog secara lisan dimana peneliti
mengajukan pertanyaan kepada responden atau informan dan responden atau
informan juga menjawab secara lisan. Jadi wawancara adalah tehnik pengumpulan
data melalui pertanyaan-pertanyaan secara langsung (lisan).
3)
Dokumentasi,
cara atau tehnik ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis sejumlah
dokumen yang terkait dengan masalah penelitian.[23]
Jadi dokumentasi adalah tehnik pengumpulan data dengan melalui dokumen-dokumen
seperti jurnal, makalah, artikel dan lain-lain.
Kesimpulannya tehnik pengumpulan data adalah
alternatif sebagai cara yang dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data yang
sesuai dengan masalah yang diteliti.
M.
Metode
Analisis Data
Tujuan metode analisis
data adalah untuk menginterpretasikan dan menarik kesimpulan dari sejumlah data
yang terkumpul. Metode analisis data dilakukan secara induktif, penelitian
kualitatif dimulai dengan fakta empiris. Analisis data merupakan proses
pengolahan data yang telah terkumpul, dan penginterpretasian hasil pengolahan
data yang terkumpul tersebut berikut kesimpulannya. Untuk mempermudah kegiatan
analisis data maka diperlukan cara atau metode analisis data.[24]
Menurut Patton,
analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam
pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Penelitian ini berpangkal dari empat kegiatan
yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.[25]
1. Pengumpulan
data
Dalam hal ini peneliti mencatat semua data secara
objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di
lapangan.,yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai bentuk data
yang ada di lapangan serta melakukan pencatatan di lapangan.
2.
Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang
muncul dari catatan tertulis di lapangan. Kegiatan reduksi data berlangsung
terus menerus selama proses kualitatif berlangsung. Reduksi data bukanlah hal
yang terpisah dari analisis pilihan-pilihan penelitian tentang data mana yang
dikode, mana yang dibuang, semua itu adalah pilihan-pilihan analisis. Reduksi
data merupakan bentuk analisis yang menajam, menggolongkan, mengarahkan, dan
membuang yang tidak perlu serta mengorganisasikan data dengan cara sedemikian
rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
3.
Penyajian data
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi, yang tersusun
memberi kemungkinan adanya penarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk
penyajian data kualitatif yang sering digunakan adalah bentuk teks naratif. Penyajian
bentuk data kualitatif ini meliputi bentuk matrik, grafik, jaringan dan bagan
bentuk-bentuk itu telah diolah dan dirancang guna menggabungkan informasi yang
tersusun dalam suatu bentuk yang perlu dan mudah diraih.
4.
Penarikan kesimpulan
Kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada catatan di
lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna yang muncul dari data
yang harus di uji kebenarannya, kekokohannya dan kecocokannya yakni merupakan
validitasnya.[26]
Jadi
sebuah penelitian itu menggunakan metode analisis data yang meliputi empat
kegiatan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi
data. Dengan metode analisis data data yang dikumpulkan dapat bermanfaat, maka
harus diolah dan dianalisis terlebih dahulu sehingga dapat dijadikan dasar
pengambilan keputusan untuk melakukan penelitian yang akan kita lakukan. tujuan
metode analisis data adalah untuk menginterpretasikan dan menarik kesimpulan
dari sejumlah data yang terkumpul.
N. Sistematika Penulisan
Sistematika
penulisan pada penelitian tentang “peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam
upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang” adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas kajian pustaka, kerangka teori dan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini akan dibahas variabel penelitian dan definisi operasional, jenis
penelitian, jenis dan sumber data, populasi dan sampel, tehnik pengumpulan
data, metode analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan.
BAB
V PENUTUP
Bab ini menguraikan
tentang simpulan penelitian dan saran yangdiberikan terhadap perusahaan maupun
penelitian lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Ahmad Rohani. 1991.
Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta:Rineka Cipta
Ahmad
D.Marimba. 1989. Pengantar filsafat pendidikan, Bandung : Al Ma’arif
Walgito, Bimo.
2010.
Bimbingan Konseling, Studi
dan Karir, Yogyakarta
: Andi
Bungin, Burhan. 2010. Penelitian
Kualitatif. Jakarta: Kencana
Thoha, Chabib. 1996. Kapita
Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Departemen Agama RI.
2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Danakarya, Surabaya
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa
Emzir. 2010. Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suryana, Ermis. 2016. Bimbingan
Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, Palembang : NoerFikri Offset
Goggle. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Di akses
pada tanggal 30 Maret 2016), Pukul:
12:30
Margono, S. 2009. Metodologi
Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Masdudi. 2008. Bimbingan
dan Konseling Persfektif Sekolah, Cirebon : STAIN Press
Miles, Mattew B, Huberman Michael
A. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.
Moeleong, Lexy J. 2011. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan
Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta
Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan
Pendidikan Nilai, Bandung:
Alvabeta
Sudarsono. 2008. Kenakalan
Remaja, Jakarta : Rineka Cipta
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
2009.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tidjan, dkk.
1993.
Bimbingan dan Konseling
Sekolah Menengah,
Yogyakarta: UPP-UNY
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
2009.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[1] Ermis Suryana. 2016. Bimbingan
Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, Palembang : NoerFikri Offset, hlm 28-29
[2] Sudarsono. 2008. Kenakalan
Remaja, Jakarta : Rineka Cipta, hlm 8
[3] Prayitno. 2001. Panduan
Kegiatan Pengawasan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta : Rineka
Cipta, hlm 8
[4] Masdudi. 2008.Bimbingan dan
Konseling Persfektif Sekolah, Cirebon:STAIN Press, hlm 2-5
[5] Ermis Suryana. 2016. Bimbingan
Konseling Di Sekolah Dan Madrasah,...hlm 11
[6] Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an
dan Terjemahnya, Danakarya, Surabaya
[7] Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani.
1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta, hlm
123
[8] Goggle. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Di akses
pada tanggal 30 Maret 2016), Pukul:
12:30
[15] Chabib, Thoha. 1996. Kapita
Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hlm.99
[16] Ahmad D.Marimba. 1989. Pengantar
filsafat pendidikan, Bandung : Al Ma’arif, hlm 19
[17] Amri Darwis. 2014. Metode
Penelitian Pendidikan Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, hlm. 40
[18]Burhan
Bungin. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, hlm 68-69
[19] Emzir. 2010. Metodologi
Penelitian Pendidikan..., hlm. 270
[20] Amri Darwis. 2014. Metode
Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 122
[21] Amri Darwis. 2014. Metode
Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 122
[22] Amri Darwis. 2014. Metode
Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 45
[23] Amri Darwis. 2014. Metode
Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 56-57
[24]Margono,
S. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm.
38
[25] Lexy J, Moeleong. 2011. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, hlm. 280
[26] Mattew, Huberman Michael, Miles.
1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia, hlm. 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar