Minggu, 03 April 2016

Proposal Pengaruh Organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi) Terhadap Pembentukkan Sikap Kepemimpinan Mahasiswa Palembang Dalam Perspektif Agama Islam



PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Era globalisasi dan informasi sekarang ini banyak menimbulkan perubahan-perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, pemerintah, pola pikir manusia maupun dalam bidang pendidikan. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai macam tantangan dan kesukaran, baik yang bersifat ringan, agak berat maupun sangat berat, sesuai dengan penilaian seseorang terhadap masalah yang dihadapinya.
Sekolah yang didalam fungsinya tidak dapat melepaskan diri dari situasi kehidupan masyarakat tertentu saja harus membantu agar siswa mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya sebagai akibat dari kemajuan-kemajuan sebagaimana yang dijelaskan diatas. Dalam situasi inilah bimbingan dan konseling akan terasa diperlukan sebagai suatu bentuk bantuan dan pelayanan sekolah (guru) kepada siswanya.[1]
            Anak – anak pada tingkat usia SMP telah memasuki pubertas yang oleh para ahli psikologi seperti Rumke, R. Cassimir dan sebagainya dianggap masa usia di mana perasaan keagamaan mulai terbentuk dalam pribadinya. Masa pubertas tersebut dialami oleh mereka sebagai permulaan timbulnya sturn und drang (kegoncangan batin) yang sangat memerlukan tempat perlindungan jiwa yang mampu memberikan pengarahan positif dalam perkembangan hidup selanjutnya.
            Bimbingan dan konseling sangat berperan aktif serta bertanggung jawab dalam pembinaan anak didik atau siswa di sekolah. Interaksi dalam proses belajar mengajar ini bukan semata-mata menghasilkan yang positif, akan tetapi ada dampak negatif yang tidak dapat dihindari. Sikap negatif pendidik yang terjadi selama dalam proses belajar mengajar akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental anak. Demikian pula interaksi sesama anak didik di sekolah tidak selalu menguntungkan bagi mereka, karena sering terjadi kebiasaan negatif seorang anak didik berpengaruh negatif pula bagi anak didik lain.
Kebiasaan-kebiasaan negatif yang sering dilakukan seorang anak didik antara lain seperti memukul teman, menendang teman, membentak sesama teman, mengucilkan teman dan sebagainya, itu adalah bagian dari salah satu contoh dari sekian banyaknya kebiasaan-kebiasaan negatif yang dilakukan seorang anak didik.
Karena anak belajar dari apa yang mereka alami. Kondisi negatif yang komplek ini merupakan wujud (entitas) yang realistik di lingkungan sekolah. Karena itu perlu adanya tindakan-tindakan dan perilaku khusus dari para pendidik agar kondisi lingkungan sekolah dapat menjamin tersedianya lingkungan yang sehat, baik secara fisik maupun psikis sesuai dengan tujuan pendidikan.[2]
            Masa remaja merupakan salah satu periode dalam rentangan kehidupan manusia, dimana individu meninggalkan masa anak-anaknya dan mulai memasuki masa dewasa. Oleh karena itu, periode remaja dapat dikatakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Dalam masa ini individu mengalami banyak tantangan dalam perkembangannya, baik dari dalam diri maupun dari luar diri terutama lingkungan sosial. Menurut Elida dan Prayitno tingkah laku negatif bukan merupakan ciri perkembangan remaja yang normal, remaja yang berkembang akan memperlihatkan perilaku yang positif. Sekarang ini sebagian remaja menunjukkan perilaku negatif, salah satunya adalah perilaku agresif yaitu suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja pada individu lain sehingga menyebabkan sakit fisik dan psikis pada individu lain.[3]
            Menurut Masdudi mengutif pendapat Muro and Kottman mengatakan bahwa, bimbingan adalah pemberi bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat memahami dirinya, lingkungan dan tugas-tugasnya sehingga mereka sanggup mengarahkan diri, menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan keadaan dan tuntutan lembaga pendidilkan, keluarga, masyarakat lingkungan kerja yang akan dimasuki kelak. Sedangkan konseling menurut Masdudi mengutif pendapat Shertzer & Stone mengatakan bahwa konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien, agar klien mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga klien merasa bahagia dan efektif perilakunya.[4]
            Bimbingan dan konseling agama menurut HM.Arifin adalah usaha pemberian bantuan kepada seseorang yang mengalami kesulitan baik lahiriah maupun bathiniah yang menyangkut kehidupannya dimasa kini dan dimasa yang mendatang. Bantuan tersebut berupa pertolongan dibidang mental spiritual, agar orang yang bersangkutan mampu mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri maupun dorongan dari kekuatan iman dan takwanya kepada Tuhan.[5]
Berbicara dalam agama tentang kehidupan manusia, hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia ke arah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figur konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaitan. Seperti tertuang dalam Al-Qur’an surat
Al-Ashr ayat 1-3 :
 وَالْعَصْرِ) ١ (اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ) ٢(
اِلاَّ الَّذِیْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْ ابِالصَّبْرِ) ٣(
Artinya :
“Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran dan saling menasehati supaya mengamalkan kesabaran”.[6]
Bimbingan dan konseling dijalankan di sekolah dalam rangka menunjang keberhasilan program pendidikan. Artinya apapun yang dilakukan dalam bimbingan merupakan usaha pelaksanaan program pendidikan. Terlebih dalam setiap adanya perubahan kurikulum yang selalu mencantumkan wajibnya pelaksanaan bimbingan dan konseling. Bimbingan konseling untuk membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, dan mampu mengatasi masalah yang sedang di hadapinya.
Fungsi bimbingan dan konseling sudah berjalan dengan baik, dilihat dari segi minimnya kenakalan siswa. Selain itu, setiap ada permasalahan, siswa langsung datang ke BK tanpa merasa takut karena adanya kedekatan antara BK dan siswa. Peranan petugas-petugas bimbingan sebaiknya tidak pada kegiatan menghukum peserta didik, sebab petugas-petugas bimbingan yang menghukum peserta didik menggangu hubungan kepercayaan (raport) dan berbagai informasi yang diperlukan dari peserta didik dapat diterima oleh petugas bimbingan, hal semacam ini secara langsung akan merusak profesi bimbingan itu sendiri dan akan menggangu proses bimbingan disekolah.[7]
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul: PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) DALAM UPAYA MENANAMKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM  PADA SISWA SMPN 35 PALEMBANG”.


A.      Batasan Masalah
Penulis mengambil sampel penelitian ini kepada siswa SMPN 35 Palembang yang memiliki permasalahan. Alasan memilih kota Palembang karena peneliti bertempat tinggal di Palembang agar dapat melakukan penelitian dengan lebih strategis dan mudah.

B.       Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang ?
2.      Apa peran guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin di capai adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam  pada siswa SMPN 35 Palembang
3.      Untuk mengetahui bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (Bk) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang.
D.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritik
a.       Bagi peneliti sebagai informasi dan pengetahuan mengenai peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa SMPN 35 Palembang.
b.      Bagi pembaca sebagai wawasan keilmuan dan pengetahuan dan dapat digunakan sebagai bahan bacaan untuk mengetahui bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa SMPN 35 Palembang.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi penulis dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama di bangku kuliah dalam dunia kerja yang sebenarnya.
b.      Bagi masyarakat dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam kepada siswa SMPN 35 Palembang.
c.       Bagi pembaca hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, informasi dan referensi bacaan bagi semua pihak yang membutuhkannya.
d.      Bagi guru Bimbingan Konseling (BK) hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan, informasi dan referensi bacaan bagi semua anggotanya.
E.       Kajian Pustaka
1.      Penelitian yang dilakukan oleh Ahin dalam skripsinya tentang “ pendidikan spiritual hypnoparenting menurut Muhammad Noer dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan islam” terdapat kata  nilai pendidikan islam merupakan bagian yang sudut pandangnya berbeda-beda karena didasarkan atas sumber-sumber nilai dalam pendidikan islam.
2.      Penelitian yang dilakukan oleh sholha afriyanti dalam skripsinya tentang “internalisasi nilai-nilai pendidikan islam melalui learning community di yayasan bening nurani (YABNI) Palembang” terdapat kata nilai-nilai pendidikan islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan islam yang digunakan sebagai dasar menusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah SWT.
3.      Penelitian yang dilakukan oleh  siti maemanah dalam skripsinya tentang “bimbingan konseling islami dalam menanggulangi kekerasan siswa di sekolah menengah kejuruan (smk) nusantara weru kabupaten cirebon” terdapat kata bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
4.      Penelitian yang dilakukan oleh  Iqbal Nazilidalam skripsinya tentang “Bimbingan konseling islami terhadap perilaku penyimpangan seksual anak cacat mental di SLBN Pembina Yogyakarta” terdapat kata bimbingan dan konseling  islami adalah suatu usaha yang dapat dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi dan memecahkan masalah yang dialami klien agar dapat mencapai kebahagiaan hidup didunia maupun diakhirat berdasarkan ajaran islam.

F.       Kerangka Teori
1.      Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku. Peranan adalah suatu pola tindakan yang dilakukan oleh aparat desa baik secara individual maupun secara bersama-sama yang dapat menimbulkan suatu peristiwa. Analisis terhadap perilaku peranan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu ketentuan peranan, gambaran peranan, dan harapan peranan. Ketentuan peranan adalah pernyataan formal dan terbuka tentang perilaku yang harus ditampilkan oleh seseorang dalam membawa perannya.[8]
2.      Guru Bimbingan Konseling (BK)
      Guru dalam arti luas berarti orang yang mata pencahariannya adalah mengajar, bisa di sekolah atau di madrasah. Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, membahas tentang pendidik dan tenaga kependidikan pada BAB XI Pasal 39 ayat 1 daaan 2 “Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.”
      Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.[9] Pada bidang profesi, guru bertugas mendidik, mengajar, dan melatih; mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup; mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan iptek; melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan siswa dalam bidang kemanusiaan, di sekolah, guru berperan sebagai orang tua kedua, yang memberi dan membangun motivasi murid-muridnya untuk belajar serta menambah wawasan dalam berbagai hal dalam bidang kemasyarakatan, guru bertugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik serta bertanggung jawab.
      Definisi bimbingan sendiri di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat berarti; petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu, tuntunan atau bisa juga berarti pimpinan. Di Indonesia istilah bimbingan merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu dari kara guidance yang diambil dari kata kerja guide yang berarti memimpin, menunjukkan atau membimbing ke jalan yang baik. Sehingga kata gudance dapat berarti pemberian pengarahan atau pemberian petunjuk kepada seseorang.
      Beberapa definisi lain yang dipaparkan para ahli di Indonesia tentang istilah bimbingan, di antaranya; Ahmad Badawi mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan oleh pembimbing (guru) terhadap individu (siswa) yang mengalami problem, agar siswa tersebut mempunyai kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi sendiri dan akhirnya dapat mencapai kebahagiaan hidup, baik kebahagiaan dalam kehidupan individu maupun sosial.[10]
      Istilah konseling di dalam Kamus Besar bahasa Indonesia memiliki arti pemberian bimbingan oleh yang ahli (guru BK) kepada seseorang (siswa) dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya. Arti lain dari konseling adalah pemberian bantuan oleh guru BK kepada siswa sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri siswa meningkat dalam memecahkan berbagai masalah.[11]
      Bimo Walgito mendidefinisikan istilah konseling sebagai bantuan yang diberikan kepada individu (siswa) untuk memecahkan masalah kehidupan dengan cara wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi oleh siswa untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.[12] Sedangkan menurut Glenn E. Smit mengungkapkan bahwa konseling adalah suatu proses dimana konselor (guru) membantu konseli (siswa) dalam membuat interpretasi mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana atau penyesuaaian yang siswa tersebut butuhkan.[13]
      Jadi kesimpulannya Bimbingan dan konseling dapat diartikan pelayanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalm bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar dan bimbingan karir melalui berbagai layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
3.      Nilai-nilai Keagamaan
Nilai-nilai pendidikan islam atau keagamaan terdiri dari dua kata yaitu kata nilai dan keagamaan. Nilai itu sendiri adalah hakikat suatu hal yang menyebabkan hal itu dikejar oleh manusia. Nilai juga berarti keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya.[14] Sedangkan pendidikan islam menurut Chabib Thoha adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan berdasarkan nilai-nilai dasar islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.[15] Tujuan pendidikan islam adalah sejalan dengan pendidikan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk Allah SWT yaitu semata-mata hanya beribadah kepada-Nya. Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa yang menjadi landasan atau dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bengunan sehingga isi Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi pondamen, karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya pendidikan.[16]

G.      Hipotesis
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian kuantitatif. Sebelum peneliti mengadakan proses pengumpulan data dilapangan an menganalisisnya untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan, peneliti terlebih dahulu memberikan jawaban sementara.[17] Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, landasan teori, dan penelitian terdahulu serta kerangka pemikiran teoritis di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan:
1.      Hipotesis 1 : Guru Bimbingan Konseling (BK) berpengaruh positif terhadap nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang
2.      Hipotesis 2 : Guru Bimbingan Konseling (BK) berpengaruh negatif terhadap nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang

H.      Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1.      Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri atas dua macam, yaitu : variabel terikat (dependent variable) atau variabel yang tergantung pada variabel lainnya, dan variabel bebas (independent variable) atau variabel yang tidak bergantung padavariabel lainnya.
a.       Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel dependen merupakan variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti. Hakekat sebuah masalah, mudah terlihat dengan mengenali berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah sikap kepemimpinan mahasiswa Palembang (Y).
b.      Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah Guru Bimbingan Konseling (BK) (X).
2.      Definisi Operasional
Definisi operasional adalah sesuatu yang melekat arti pada suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk mengukur variabel itu. Pengertian operasional variabel diuraikan menjadi indikator empiris meliputi:
a.        Guru Bimbingan Konseling (BK) (X)
b.      Nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang (Y)

I.         Jenis Penelitian
Metode penelitian ini dilakukan menggunakan metode desktiptif kualitatif. metode desktiptif kualitatif merupakan suatu penelitian ekplorasi dan memainkan peranan yang sangat penting dalam menciptakan hipotesis atau pemahaman tentang berbagai variabel sosial. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena relitas sosial yang ada dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu.[18] Pengolahan dan analisis data penelitian ini tunduk pada cara analisis data ilmu-ilmu sosial. Untuk menganalisis data, tergantung pada sifat data yang dikumpulkan oleh peneliti.

J.        Jenis Dan Sumber Data
a.       Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah:
1)      Data Kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar, seperti literatur-literatur serta teori-teori yang berkaitan dengan penelitian penulis. Jadi data kualitatif itu bisa dalam berbagai macam bentuk seperti gambar, kalimat dan lain-lain.
2)      Data Kuantitatif, ialah data yang dinyatakan di dalam bentuk skala numerik atau angka, seperti contoh data kualitatif yang diangkakan (scoring).[19] Jadi data kuantitatif itu adalah data yang berbentuk angka.
b.      Sumber Data
1)      Data Primer
      Data primer adalah data yang diambil langsung tanpa perantara dari sumbernya.[20] Data responden sangat diperlukan untuk mengetahui tanggapan responden mengenai pengaruh organisasi terhadap pembentukkan sikap kepemimpinan mahasiswa uin raden fatah Palembang dalam perspektif agama islam. Sumber data pertama ini merupakan catatan tertulis yang dilakukan melalui wawancara yang diperoleh peneliti dari responden (anggota organisasi) dan informan (ketua organisasi).
2)      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya. Data sekunder biasanya diambil dari dokumen-dokumen (laporan, karya tulis orang lain, koran dan majalah).[21] Sumber data sekunder yang digunakan adalah dokumen dan sumber-sumber pustaka yang ada kaitannya dengan pengaruh organisasi KAMMI terhadap pembentukkan sikap kepemimpinan mahasiswa Uin Raden Fatah Palembang dalam perspektif agama islam.

K.      Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi (population) merupakan keseluruhan (jumlah) subyek atau sumber data penelitian.  Populasi adakalanya terhingga (terbatas) dan tidak terhingga (tidak terbatas). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Guru Bimbingan Konseling (BK) di .
Sampel merupakan populasi atau subyek yang dipilih dan ditetapkan sebagai sumber data atau sumber informasi penelitian. Penarikan sampel ditentukan oleh banyaknya populasi atau tingkat heterogenitas populasi.[22] Sehingga sampel dari penelitian ini adalah seluruh anggota organisasi KAMMI di UIN Raden Fatah Palembang disetiap staf baik itu ketua, wakil, sekretaris atau anggotan dalam organisasi, mencakup seluruh orang yang ada dalam organisasi tersebut.

L.       Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara:
1)    Observasi ialah melakukan pengamatan terhadap sumber data. Observasi bisa dilakukan secara terlibat (partisipasi) dan tidak terlibat (non- partisipasi). Jadi observasi adalah tehnik pengumpulan data melalui pengamatan.
2)    Wawancara, cara ini dilakukan dengan melakukan dialog secara lisan dimana peneliti mengajukan pertanyaan kepada responden atau informan dan responden atau informan juga menjawab secara lisan. Jadi wawancara adalah tehnik pengumpulan data melalui pertanyaan-pertanyaan secara langsung (lisan).
3)    Dokumentasi, cara atau tehnik ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis sejumlah dokumen yang terkait dengan masalah penelitian.[23] Jadi dokumentasi adalah tehnik pengumpulan data dengan melalui dokumen-dokumen seperti jurnal, makalah, artikel dan lain-lain.
Kesimpulannya tehnik pengumpulan data adalah alternatif sebagai cara yang dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan masalah yang diteliti.
M.     Metode Analisis Data
Tujuan metode analisis data adalah untuk menginterpretasikan dan menarik kesimpulan dari sejumlah data yang terkumpul. Metode analisis data dilakukan secara induktif, penelitian kualitatif dimulai dengan fakta empiris. Analisis data merupakan proses pengolahan data yang telah terkumpul, dan penginterpretasian hasil pengolahan data yang terkumpul tersebut berikut kesimpulannya. Untuk mempermudah kegiatan analisis data maka diperlukan cara atau metode analisis data.[24]
Menurut Patton, analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Penelitian ini berpangkal dari empat kegiatan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.[25]
1.       Pengumpulan data
Dalam hal ini peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.,yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai bentuk data yang ada di lapangan serta melakukan pencatatan di lapangan.


2.       Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Kegiatan reduksi data berlangsung terus menerus selama proses kualitatif berlangsung. Reduksi data bukanlah hal yang terpisah dari analisis pilihan-pilihan penelitian tentang data mana yang dikode, mana yang dibuang, semua itu adalah pilihan-pilihan analisis. Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajam, menggolongkan, mengarahkan, dan membuang yang tidak perlu serta mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
3.       Penyajian data
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi, yang tersusun memberi kemungkinan adanya penarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajian data kualitatif yang sering digunakan adalah bentuk teks naratif. Penyajian bentuk data kualitatif ini meliputi bentuk matrik, grafik, jaringan dan bagan bentuk-bentuk itu telah diolah dan dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang perlu dan mudah diraih.
4.       Penarikan kesimpulan
Kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna yang muncul dari data yang harus di uji kebenarannya, kekokohannya dan kecocokannya yakni merupakan validitasnya.[26]
Jadi sebuah penelitian itu menggunakan metode analisis data yang meliputi empat kegiatan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dengan metode analisis data data yang dikumpulkan dapat bermanfaat, maka harus diolah dan dianalisis terlebih dahulu sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk melakukan penelitian yang akan kita lakukan. tujuan metode analisis data adalah untuk menginterpretasikan dan menarik kesimpulan dari sejumlah data yang terkumpul.










N.      Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penelitian tentang “peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan islam pada siswa SMPN 35 Palembang”  adalah sebagai berikut:
BAB I                         PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan
BAB II                        TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas kajian pustaka, kerangka teori dan hipotesis.
BAB III                      METODE PENELITIAN
Bab ini akan dibahas variabel penelitian dan definisi operasional, jenis penelitian, jenis dan sumber data, populasi dan sampel, tehnik pengumpulan data, metode analisis data.
BAB IV                      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan.
BAB V                       PENUTUP     
Bab ini menguraikan tentang simpulan penelitian dan saran yangdiberikan terhadap perusahaan maupun penelitian lain.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Ahmad Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta:Rineka Cipta
Ahmad D.Marimba. 1989. Pengantar filsafat pendidikan, Bandung : Al Ma’arif
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan Konseling, Studi dan Karir, Yogyakarta : Andi
Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana
Thoha, Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Danakarya, Surabaya
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suryana, Ermis. 2016. Bimbingan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, Palembang : NoerFikri Offset
Goggle. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Di akses pada tanggal 30 Maret  2016), Pukul: 12:30
Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Masdudi. 2008. Bimbingan dan Konseling Persfektif Sekolah, Cirebon : STAIN Press
Miles, Mattew B, Huberman Michael A. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.
Moeleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta
Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alvabeta
Sudarsono. 2008. Kenakalan Remaja, Jakarta : Rineka Cipta
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tidjan, dkk. 1993. Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah, Yogyakarta: UPP-UNY
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


[1] Ermis Suryana. 2016. Bimbingan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, Palembang : NoerFikri Offset, hlm 28-29
[2] Sudarsono. 2008. Kenakalan Remaja, Jakarta : Rineka Cipta, hlm 8
[3] Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta, hlm 8
[4] Masdudi. 2008.Bimbingan dan Konseling Persfektif Sekolah, Cirebon:STAIN Press, hlm 2-5
[5] Ermis Suryana. 2016. Bimbingan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah,...hlm 11
[6] Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Danakarya, Surabaya
[7] Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta, hlm 123
[8] Goggle. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Di akses pada tanggal 30 Maret  2016), Pukul: 12:30
[9] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,  hlm 31
[10] Tidjan, dkk. 1993. Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah, Yogyakarta: UPP-UNY, hlm. 7.
[11] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, hlm. 725.
[12] Bimo Walgito. 2010. Bimbingan Konseling, Studi dan Karir, Yogyakarta : Andi, hlm. 8
[13] Tidjan, dkk. 1993. Bimbingan dan Konseling..., hlm. 8
[14] Rohmat Mulyana. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alvabeta, hlm. 9
[15] Chabib, Thoha. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hlm.99
[16] Ahmad D.Marimba. 1989. Pengantar filsafat pendidikan, Bandung : Al Ma’arif, hlm 19
[17] Amri Darwis. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, hlm. 40
[18]Burhan Bungin. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, hlm 68-69
[19] Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan..., hlm. 270
[20] Amri Darwis. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 122
[21] Amri Darwis. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 122
[22] Amri Darwis. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 45
[23] Amri Darwis. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Islam..., hlm. 56-57
[24]Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 38
[25] Lexy J, Moeleong. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, hlm. 280
[26] Mattew, Huberman Michael, Miles. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia, hlm. 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar